Friday, March 13, 2015

, , , ,

Posisi Tidur Terbaik Bagi Bayi di Siang dan Malam Hari

Dokter Anak


Layaknya orang dewasa, sebelum pulas tertidur biasanya bayi akan membolak-balikkan tubuhnya untuk mencari posisi tidur yang menurutnya paling nyaman. Mengingat sedang dalam masa pertumbuhan, ada beberapa posisi tidur yang direkomendasikan untuk si kecil.

Menurut dr Marissa TS Pudjiadi SpA, posisi tidur bayi sebenarnya tidak menjadi masalah selama anak dapat tidur dalam waktu yang cukup. Hanya saja, dokter sering menyuruh agar bayi diposisikan tengkurap saat tidur siang, mengapa?

"Sebenarnya posisi tengkurap tidak menyebabkan kesulitan bernapas. Justru posisi ini lebih ramah untuk paru-paru bayi," kata dr Marissa dalam perbincangan dengan detikHealth dan ditulis pada Senin (12/5/2014).

Selain itu, pada posisi tengkurap bayi akan mulai melatih otot-otot leher dan punggungnya dengan mengangkat kepala. Hal ini dikatakan dr Marissa sangat alamiah mengingat bayi ingin melihat suasana di sekelilingnya.

Pastinya berbeda ketika bayi berada dalam posisi telentang. Di posisi ini, si kecil otomatis sudah melihat sekelilingnya tanpa perlu usaha menengadah ke atas. Posisi tengkurap juga bisa menjaga kepala bayi sehingga tetap dalam bentuk yang baik.

"Tetapi ingat, saat tidur malam bayi tetap harus pada posisi terlentang karena pada saat semua tertidur dan tidak ada yang menjaga, bila hidung bayi tertutup benda, tidak ada yang dapat menolong bayi sehingga ditakutkan terjadi Sudden Infant Death syndrome (SIDS)," lanjut dokter yang praktik di RS Premiere Jatinegara ini.

Meski demikian, dr Marissa menegaskan bukan berarti tidur terlentang selamanya buruk. Sebab, tidur telentang juga memiliki keuntungan yaitu mengurangi kemungkinan insiden SIDS. Tidur dalam posisi terlentang juga baik bila dilakukan dengan cara bijaksana misalnya menggunakan bantal kepala khusus yang sering disebut "bantal peang".

Fungsi bantal ini yakni untuk menjaga bentuk kepala bayi. Cara lain untuk menjaga bentuk kepala bayi yaitu dengan tidur bergantian menghadap kiri dan kanan serta bayi diposisikan tengkurap pada saat bermain.

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth

 dranak.com

Tuesday, March 10, 2015

, ,

Usia Ibu Saat Melahirkan Berkaitan dengan Risiko Diabetes pada Anak

Dokter Anak




 Usia ibu melahirkan turut memengaruhi kesehatan buah hatinya kelak. Terutama bagi anak laki-laki, usia ibu saat melahirkan berhubungan dengan kemampuan anak memetabolisme glukosa. Hal ini pun berkaitan erat dengan risiko diabetes tipe 2 ketika anak dewasa.

Berdasarkan studi yang dilakukan peneliti di Belgia, anak laki-laki yang lahir dari ibu berusia di bawah 25 tahun atau di atas 34 tahun memiliki risiko lebih tinggi mengidap diabetes melitus tipe 2. Untuk studi ini, ketua peneliti Dr Charlotte Verroken dan koleganya melibatkan hampir 700 pria berusia 25-45 tahun.

"Kami menemukan di kelompok pria sehat usia 25-45 tahun, pengaturan glukosa dalam tubuh terkait dengan usia ibu mereka saat melahirkan. Secara khusus, anak-anak dari ibu yang melahirkan di bawah 30 tahun dan di atas 34 tahun lebih banyak mengalami resistensi insulin dibanding mereka yang lahir dari ibu berusia 30-34 tahun," terang Verroken.

Selain itu, anak-anak dari ibu yang melahirkan di bawah 25 tahun memiliki kadar gula darah puasa yang lebih tinggi dibanding mereka yang lahir dari ibu berusia di atas 25 tahun saat melahirkan. Dalam studi ini, 700 pria diminta melakukan tes kolesterol, gula darah, kadar insulin, dan melakukan evaluasi terkait resistensi insulin.

Hasilnya, peneliti menemukan mereka yang lahir dari ibu berusia 30-34 tahun memiliki kadar insulin puasa paling rendah dan mengalami resistensi insulin. Tingkat insulin puasa terendah berikutnya dimiliki mereka yang lahir dari ibu berusia di bawah 25 tahun. Peneliti juga menemukan lebih tua usia ibu saat melahirkan, lebih berat pula bayi yang mereka lahirkan.

"Kami berspekulasi ada hubungan dengan kematangan usia ibu seseorang saat melahirkan dengan kemampuan tubuh anak yang dikandung untuk memetabolisme glukosa. Kami mengingatkan, penelitian ini tidak dirancang untuk membuktikan hubungan sebab akibat," tegas Verroken dalam rilis di Endocrine Society dan dikutip pada Selasa (10/3/2015).

Dikatakan Verroken, studi yang ia lakukan hanya menunjukkan adanya hubungan antara usia ibu saat melahirkan dengan risiko anak terkena diabetes ketika dewasa.
  dranak.com

Berita Dokter Anak

Powered by Blogger.