Minggu, 18 Januari 2015

, , , , , , ,

Bayi 10 Bulan Ini Berbobot 20 Kg terkena Sindrom Prader Willi

Dokter Anak




Bayi Usianya baru 10 bulan, tetapi Juanita Valentina Hernandez memiliki berat badan 20 kg. Bobot tubuhnya itu hampir sama dengan kebanyakan anak berusia 5 tahun. Padahal, anak seusianya biasanya memiliki berat badan sekitar 8,5 kg.


Saat lahir Juanita memiliki berat badan yang normal, yaitu sebesar 2,73 kg. Bayi ini baru mengalami pertambahan berat badan yang luar biasa beberapa minggu setelahnya.

"Berat badan memang bervariasi sesuai dengan ras yang dimiliki, tetapi bagaimanapun juga bayi ini memiliki berat badan yang sangat berlebih," kata Tam Fry dari Child Growth Foundation.

Sandra Franco, ibu bayi Juanita yang berasal dari Libano, Kolombia, tidak memiliki pekerjaan dan uang yang cukup sehingga ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan terhadap berat badan anaknya yang sangat besar itu.  

"Saat berumur 15 hari dia sudah terlihat gemuk karena pada saat lahir dia sangat kurus. Sejak saat itu berat badannya terus bertambah," kata Sandra.
Tam Fry mengatakan, ada berbagai macam gangguan kesehatan yang dapat menyebabkan berat badan pada anak ini terus bertambah. Kasus ini termasuk dalam kasus sindrom Prader Willi, di mana penderita sindrom ini akan merasakan lapar yang terus-menerus dan sangat mudah untuk mengalami berat badan.

Gangguan lain adalah sindrom Cushing, di mana terjadi peningkatan hormon kortisol (hormon yang akan muncul saat kita mengalami stres) yang akan menyebabkan bertambahnya berat badan. Sedangkan pada sindrom Beckwith Wiedemann yang lebih dikenal sebagai Overgrowth Syndrome dapat juga menyebabkan pertambahan berat badan yang cepat pada anak-anak.

Beberapa bulan terakhir Colombian Charity Gorditos de Corazon - Chubby Hearts membawa Juanita untuk melakukan pengobatan di Bogota. Salah satu pendiri lembaga amal, Salvador Palacio Gonzales, membuat suatu misi untuk mengatasi masalah tentang pertambahan berat badan yang tidak normal pada balita.

Juanita adalah bayi yang memiliki berat badan lebih dari 20 kg dan merupakan bayi ketiga yang dibantu oleh lembaga amal tersebut.

Meskipun umur Juanita masih di bawah satu tahun, ia harus menghadapi masa depan yang suram jika pertambahan berat badannya tidak terkontrol dengan baik. Risiko terbesar akibat obesitas yang dideritanya adalah diabetes tipe 2 dalam waktu tidak lebih dari 2 atau 3 tahun.

smbr: (Monica Erisanti) kompas.com.



dranak.com

Minggu, 11 Januari 2015

, , , , , , , ,

Pentingnya Kesehatan Emosional Ibu dalam Mengasuh Anak

Dokter Anak



Kesehatan fisik dan emosional seorang ibu ketika membesarkan anak-anaknya berpengaruh erat terhadap kesehatan si anak. Studi menemukan, ibu yang depresi akan memengaruhi perubahan perilaku anak. 

Anak-anak yang masih dalam usia sekolah dasar dan dibesarkan oleh ibu yang depresi cenderung akan terlibat dalam masalah perilaku seperti mengonsumsi minuman keras dan narkoba ketika anak tersebut sudah remaja. 

Penelitian ini melibatkan hampir 3.000 anak-anak yang diikuti sejak mereka masih balita. Setiap dua tahun, si ibu mengisi kuesioner mengenai kesehatan fisik dan mental mereka sendiri dan juga anak-anak mereka. 

Kemudian setelah anak-anak tersebut berusia 10-11 tahun, mereka mengisi kuesioner mereka sendiri. Salah satu pertanyaannya adalah apakah mereka terlibat dalam perilaku beresiko, seperti mengonsumsi alkohol, narkoba dan merokok, dan juga membawa senjata atau pun melarikan diri dari rumah.

Para peneliti juga menemukan bahwa anak-anak dengan ibu yang sedang depresi di "masa menengah kanak-kanak" kemungkinan besar lebih cepat memiliki perilaku berisiko daripada anak-anak lain.

"Pengaruh depresi ibu pada perilaku remaja terkait dengan efek jangka panjang yang buruk di masa dewasa," kata Ian Colman, seorang peneliti di Universitas Ottowa di Ontario.

Penelitian sebelumnya telah menyatakan adanya hubungan antara depresi seorang ibu selama kehamilan atau setelah bayi lahir pada kesehatan mental remaja. Tapi tidak banyak yang diketahui tentang depresi ibu dan perilaku remaja nantinya, tulis tim Colman dalam Jurnal Pediatrics. 

Disebutkan, masa menengah kanak-kanak adalah periode peningkatan kognitif, perkembangan sosial dan emosional. Anak-anak dalam kelompok usia ini memulai sekolah, memperbaiki kemampuan bahasa mereka dan semakin terlibat dalam hubungan sebaya sosial. 

Dalam pengasuhan ibu yang depresi dan perilaku orangtua yang negatif dapat membahayakan perkembangan anak sendiri selama waktu sensitif tersebut dan menyebabkan "defisit abadi”.

Colman mengatakan bahwa tidak mudah meminta bantuan, tetapi bahkan hanya berbicara tentang apa yang dia rasakan kadang-kadang bisa menjadi awal bantuan sebenarnya dalam perjalanan menuju pemulihan bagi seorang ibu yang mengalami depresi. "Jangan lupa bahwa apa yang baik bagi ibu terkadang juga baik untuk anak-anak mereka." (Eva Ervaiana)


 
 
 
 
 
 smbr:kompas
 
 
Editor :
Lusia Kus Anna




dranak.com

Populer Dokter Anak

Diberdayakan oleh Blogger.