Selasa, 24 Februari 2015

, , , , ,

Banyak Gerak Bikin Luka Khitan pada Anak Susah Kering? Ah Itu Mitos

Dokter Anak



Meghindari agar luka bekas khitan tidak lembab menjadi salah satu upaya agar luka sunat alias khitan anak cepat kering. Meski begitu, kerap kali anak dilarang banyak gerak setelah disunat karena khawatir luka khitannya tak kunjung kering.

Menanggapi hal ini, dr Arry Rodjani SpU menuturkan banyak bergerak dengan lamanya luka sunat yang tidak kering tidak ada hubungannya. Apalagi, selama perawatan luka khitan dilakukan dengan tepat.

"Yang menyebabkan keluhan bekas luka tidak kunjung kering mungkin ada kelainan pada penis atau teknik pengerjaan sunatnya yang tidak tepat," kata dr Arry saat berbincang dengan detikHealth dan ditulis pada Selasa (24/2/2015).

Senada dengan dr Arry, DR dr Nur Rasyid SpU(K) mengungkapkan sebenarnya banyak hal yang menyebabkan luka sunat tidak kunjung kering. Tiap orang pun memiliki penyebab yang berbeda-beda.



"Tergantung daya tahan tubuhnya dia. Asalkan tidak ada perdarahan, sepertinya tidak masalah," ujar dr Rasyid yang praktik di RS Cipto Mangunkusumo ini.

Agar luka khitan cepat kering, perawatan pada penis pun harus dilakukan dengan tepat. Oleh karena itu, lanjut dr Rasyid, orang tua patut memperhatian bagaimana cara operasi yang dilakukan dokter.

Untuk luka yang tidak menggunakan balutan, biasanya akan cepat kering. Prosedur ini pun umum digunakan oleh dokter yang yakin tidak ada masalah selama operasi seperti perdarahan.

"Sementara, jika pada luka khitan terdapat balutan, agar luka cepat kering maka sebisa mungkin area yang dibalut tersebut tidak basah dan lembab," ucap dr Rasyid.


smbr:detik
dranak.com
, , , ,

Usia Anak Ideal Untuk Di sunat

Dokter Anak




Berbicara soal khitan, umumnya di umur 10-12 tahun anak laki-laki sudah siap untuk dikhitan alias disunat. Namun, ada pula yang takut disunat meski dinilai usianya sudah cukup.

Terkait hal ini, dr Arry Rodjani SpU menegaskan bahwa untuk waktu sunat anak sebenarnya tidak ada patokan khusus. Asalkan penis anak normal, tidak terlalu kecil atau mengalami masalah lain pada penis, anak bisa saja disunat, demikian dikatakan dr Arry saat berbincang dengan detikHealth dan ditulis pada Selasa (24/2/2015).

"Tidak ada udia idealnya. Umur berapapun bisa disunat, tergantung anak dan keluarganya. Saat anak dianggap sudah besar tapi masih takut disunat, bisa dibujuk. Atau bisa dibius umum supaya tidak nyeri saat dilakukan operasi. Kalau makin besar apakah lebih sulit atau mudah sebenarnya tidak ada masalah. Tapi kalau bayi kan bisa lebih mudah karena tidak banyak gerak," terang dr Arry.

Kondisinya pasti berbeda ketika anak disunat di atas usia 5 tahun karena ia lebih aktif dan umumnya akan lebih banyak yang memegangi karena si anak takut. Lalu, bagaimana dengan anak perempuan? Apakah ada sunat untuk anak perempuan?



"Untuk anak perempuan, tidak ada sunat pada perempuan, hanya salah pengertian. Memang dilaksanakan pada beberapa negara, tapi tidak dianjurkan karena klitorisnya yang dipotong. dan dikhawatirkan akan berefek pada terganggunya aktivitas seksual atau justru tidak bisa merasakan kepuasan seksual," papar dr Arry.

Dokter yang praktik di RSCM dan RS Asri Jakarta ini berpesan agar orang tua lebih teliti dan jeli memilih prosedur sunat yang sesuai dengan kondisi anak, untuk menghindari risiko komplikasi. Ia menambahkan, sering ditawarkan teknik sunat yang bukan dilakukan oleh dokter menggunakan prosedur yang tidak memenuhi standar.

"Seperti menggunakan sordel (alat yang untuk memanaskan besi) atau dengan termal. Efeknya bisa bikin glans penis jadi ikut terbakar dan paling bahaya ya bisa putus. Hal ini sudah pernah terjadi pada beberapa pasien," kata dr Arry.

"Jangan main sembarangan sunat ke 'dokter'. Mereka mungkin bilangnya laser tapi kenyataannya bukan laser yang sesungguhnya dipakai sunat. jika tidak hati-hati, justru glans penis ikut terbakar dan seiring berjalannya waktu kalau makin parah bisa diamputasi, bahaya itu," pungkasnya.

smbr:detik
dranak.com

Populer Dokter Anak

Diberdayakan oleh Blogger.