Jumat, 24 Oktober 2014

, , ,

Manfaat Olahraga bagi Kesehatan Anak dan Remaja

Dokter Anak


Aktivitas fisik atau olahraga tidak hanya bermanfaat untuk kesehatan fisik anak dan remaja seperti meningkatkan lean body mass, kekuatan otot dan tulang, meningkatkan kesehatan jantung, peredaran darah, dan mengontrol berat badan. Lebih jauh, olah raga memiliki manfaat nonfisik, antara lain meningkatkan kepercayaan diri, kemampuan belajar dan berlatih, meningkatkan kesehatan mental psikologis, dan membantu anak mengurangi stres.
Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), seorang anak membutuhkan sekitar 60 menit berolahraga fisik setiap harinya. Total 60 menit ini tidak harus didapatkan dalam satu waktu yang sama, tetapi dapat dijumlahkan dalam sehari menjadi 60 menit.
Bentuk olahraga yang dianjurkan antara lain jogging, olahraga aerobik, berlari, naik sepeda cepat, berjalan menanjak, dan bela diri. Olahraga jenis ini termasuk dalamvigorous-intensity activity, yang menggunakan energy lebih dari 7 kcal per menit dan memiliki manfaat lebih baik dibandingkan dengan moderate-intensity yang menggunakan energi sekitar 3,5-7 kcal per menit. Contoh dari olahraga moderate-intensity antara lain berjalan hingga berjalan cepat, senam, dan naik sepeda santai.
Salah satu masalah yang harus kita perhatikan dalam keseharian dan kesehatan anak kita adalah physical inactivity, yaitu anak kurang melakukan kegiatan fisik. Contoh keadaan ini antara lain anak cenderung memilih diantar ke sekolah menggunakan kendaraan dibandingkan bersepeda atau jalan kaki, anak memilih bermain video games atau menonton televisi dibanding bermain di luar rumah dan lainnya. Kadang, orangtua juga turut mendukung kondisi ini karena berbagai alasan seperti takut membiarkan anak bermain di luar rumah yang dapat membahayakan diri anak. AAP merekomendasikan bahwa anak usia di bawah 2 tahun sebaiknya tidak dibolehkan menonton televisi, sedangkan anak usia di atas 2 tahun hanya boleh menonton televisi paling lama 2 jam per hari.
Olahraga bayi usia di bawah 1 tahun
Stimulasi merupakan sarana bermain dan belajar bagi bayi. Orangtua dapat mulai mengajarkan aktivitas fisik yang akan membantu perkembangan, khususnya perkembangan motor kasar. Hal penting yang perlu diperhatikan adalah bayi harus diletakkan di tempat yang aman dan orangtua memfasilitasi aktivitas fisik serta tidak menghalangi bayi untuk bergerak baik untuk gerakan motor kasarnya maupun perkembangan lainnya. Dengan memberikan kebebasan bayi bergerak di tempat yang aman, akan memberikan kesempatan bayi untuk mengeksplorasi lingkungan, belajar, serta membentuk dan memperkuat ototnya.
Olahraga anak usia 1-4 tahun
Pada periode usia ini, seorang anak diharapkan sudah dapat berjalan, berlari, dan melompat. Pada masa ini, olahraga diperlukan untuk memperkuat kemampuan dasar motor kasar dan kemudian melatih fungsi dan kemampuan motorik, serta perkembangan lainnya seperti kemampuan koordinasi mata-tangan (motor-halus), keseimbangan, dan ritme gerak fisik. Bentuk paling sering dari aktivitas fisik pada masa ini adalah bermain secara aktif seperti berjalan, berlari, memanjat, dan lainnya. Bentuk lain adalah yang disebut interactive guided play atau bermain interaktif dengan arahan seperti berlatih menari, yang juga melatih anak untuk mengikuti instruksi.
Sebuah penelitian di Iowa, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa anak-anak yang secara aktif bermain memperlihatkan pertumbuhan dan perkembangan tulang yang optimal. Banyak penelitian lain yang membuktikan bahwa bermain aktif mencegah anak dari kelebihan berat badan dan obesitas.
Olahraga anak usia 5-10 tahun
Pada usia ini, anak sudah lebih lincah dan dapat beraktivitas dalam bentuk permainan yang lebih bervariasi. Pada usia 5-6 tahun, anak mulai dapat bermain yang memerlukan sedikit instruksi, fokus pada kesenangan, bukan fokus pada kompetisi. Bentuk kegiatan berupa aktivitas fisik yang berulang-ulang, hindari gerakan yang terlalu kompleks dan dapat melatih keterampilan berpikir. Kegiatan yang dilakukan antara lain berlari, berenang, melempar, dan menangkap bola. Pada usia 7-11 tahun, aktivitas fisik juga lebih kepada kesenangan bukan kompetisi, bermain dengan peraturan dan instruksi yang fleksibel. Misalnya bermain sepak bola yang memerlukan aktivitas yang lebih kompleks dan keterampilan kognitif, serta perlu bekerja sama dalam tim.
Usia remaja 11-21 tahun
Pada usia ini, anak sudah memasuki masa remaja. Olahraga juga membentuk otot dan meningkatkan kekuatan otot dan tulang serta mengurangi lemak tubuh sehingga menjaga kesehatan fisik. Selain itu, olahraga dapat mengurangi depresi, cemas, dan meningkatkan percaya diri dan keahlian. Remaja memiliki banyak pilihan dan waktu yang lebih panjang dalam berolahraga. Olahraga yang bersifat kompetitif merupakan tantangan tersendiri bagi remaja.

Tips

Intake cairan untuk olahraga
Untuk menghindari dehidrasi, sebaiknya minumlah sebelum merasa haus karena jika haus, berarti telah terjadi dehidrasi ringan. Sebaiknya minum cairan yang sejuk (bukan dingin), sebelum, selama dan setelah olahraga. Jumlah sekitar 200-250 cc (1 gelas) setiap 20 menit berolahraga. Sport drinks umumnya mengandung 6-8 persen gula dan elektrolit. Jenis minuman ini bermanfaat untuk olahraga yang berlangsung lebih dari satu jam.
Pencegahan cedera saat berolahraga
  1. Melakukan pemanasan sebelum berolahraga.
  2. Menggunakan pelindung sesuai kebutuhan seperti helm.
  3. Batasi waktu untuk olahraga yang spesifik, yang membutuhkan gerakan yang sama secara berulang-ulang.
  4. Perhatikan kecepatan gerakan dan berhati-hatilah akan terjadi cedera akibat gerakan. 

Penulis: Bernie Endyarni Medise (Ikatan Dokter Anak Indonesia)
Dimuat di harian Kompas (10/11/2013 dan 17/11/2013)


dranak.com
, , , , ,

Jangan Ceroboh Saat Berikan Obat ke Anak

Dokter Anak




KOMPAS.com - Kesalahan pemberian obat ke anak bisa berdampak serius. Sayangnya, setiap 8 menit satu anak mengalami kesalahan pemberian obat dari orangtua atau pengasuh mereka. 

Demikian menurut studi yang dilakukan di AS. Diketahui, 63.000 anak berusia kurang dari 6 tahun mengalami kesalahan pemberian obat antara tahun 2002 dan 2012. Kesalahan pemberian obat itu mayoritas terjadi di rumah.

"Beberapa kesalahan ini memiliki konsekuensi yang sangat serius," kata penulis studi Dr Huiyun Xiang, direktur Pusat Penelitian Trauma Pediatrik di Rumah Sakit Anak di Columbus, Ohio. 

Selama kurun waktu penelitian, 25 anak meninggal akibat kesalahan pengobatan, dan 4.658 anak harus masuk rumah sakit. Para peneliti juga menemukan jumlah kesalahan yang melibatkan penggunaan obat batuk dan demam mengalami penurunan 59 persen antara tahun 2002 dan 2012, tetapi jumlah kesalahan yang berhubungan dengan penggunaan obat lain meningkat hampir 43 persen. 

Pada tahun 2007, Badan Obat dan Makanan Amerika Serikat menganjurkan untuk membatasi penggunaan obat batuk dan demam pada anak-anak di bawah usia 6 tahun. Hal ini karena tidak ada bukti bahwa obat tersebut efektif untuk anak-anak. Efek samping dari obat-obat tersebut juga sering ditemukan.

Ikatan dokter anak di AS juga setuju dengan rekomendasi tersebut. Kemudian di tahun 2008, produsen obat menghapus obat batuk dan demam untuk anak berusia kurang dari dua tahun, serta memberi label peringatan penggunaan obat pada anak kurang dari 4 tahun.

"Penelitian kami dan studi sebelumnya telah menemukan penurunan yang signifikan terhadap kesalahan penggunaan obat batuk dan obat demam sejak rekomendasi itu keluar," kata Xiang.
 
Tidak jelas mengapa ada kenaikan pada kesalahan pemberian obat. Para ahli menduga hal itu ada hubungannya dengan meningkatnya penggunaan obat penghilang rasa sakit dan antihistamin yang biasanya digunakan untuk alergi pada anak-anak.

Menurut penelitian ini, lebih dari 25 persen kesalahan pengobatan disebabkan karena secara tidak sengaja meminum atau mengonsumsi  obat sebanyak dua kali, padahal hanya satu dosis yang dibutuhkan.

Para peneliti juga menemukan bahwa semakin keci usia anak, semakin besar pula  kemungkinan mereka untuk mengalami kesalahan pengobatan. Sebanyak 25 persen kasus kesalahan terjadi pada anak berusia kurang dari 1 tahun.

"Anak-anak yang berusia sangat muda mungkin belum bisa berkomunikasi dengan orang tua dan pengasuhnya, sehingga tidak dapat memberitahu orang-orang dewasa bahwa mereka telah mengonsumsi obat,” katanya.

Ia menyarankan orangtua untuk melakukan pencatatan dosis dan pemberian obat. Saat ini di ponsel pintar juga tersedia aplikasi khusus untuk pemberian obat, termasuk mengukur dosis yang paling tepat. (Eva Erviana)



dranak.com

Populer Dokter Anak

Diberdayakan oleh Blogger.