Friday, June 14, 2013

Filled Under: , , , , , ,

Bayi Anda Ngeces

Dr Anak.com



Bayi yang ngeces kerap dihubungkan dengan mitos. Karena ngidam tak kesampaian. Padahal, ada faktor lain yang perlu dicermati lho.
Ih si kecil ngeces! Dulu ngidam apa sih? Pasti tak kesampaian ya. Inget-inget ngidamnya apa, terus penuhi sekarang! Mudah-mudahan si kecil tak ngeces lagi. Biasanya demikianlah reaksi orang bila melihat bayi teman suka ngeces. Yakni, dari mulutnya keluar air liur atau ngiler terus menerus.
Banyak kalangan masyarakat beranggapan bahwa keinginan orang tua akan sesuatu hal sewaktu hamil bila tak terpenuhi bisa berakibat anaknya bakal punya kebiasaan ngeces atau ngiler. yah, memang keinginan yang sangat untuk menikmati atau memiliki sesuatu disebut ngiler. Bahkan, pada bayi yang ngeces, dianggap demikian. Eh, di masyarakat maju dan modern seperti sekarang, pandangan itu masih saja bertahan. paling-paling perubahannya jika anak mulai ngeces di usia 6 bulanan ke atas, pasti dianggapnya karena mau tumbuh gigi.

Menurut spesialis anak Dr. Widodo Judarwanto, Sp.A, alasan ‘ilmiah’ yang umum diketahui memang ‘mau tumbuh gigi’. Memang benar proses tumbuh gigi bisa menimbulkan baliya ngiler tapi proses itu hanya memakan waktu singkat hanya 2-3 hari saja,” tegas dokter yang berpraktek di RS Bunda-Menteng. “Sebenarnya tak selalu karena mau tumbuh gigi atau mitos saja. Ada alasan medis lainnya.”

Ngiler atau istilah kedokterannya Shalore merupakan pengeluaran cairan ludah dari rongga mulut yang tidak disengaja, akibat ketidakmampuan untuk menelan. Shalore ini bukan penyakit tapi gejala penyakit. Meski terdengar agak menyeramkan, namun jangan panik dulu. Karena, kata Widodo, sesungguhnya hal ini termasuk normal. Meski, ada beberapa faktor yang tetap harus mendapat perhatian guna menghindari kefatalan.

Penyebab sering timbulnya ngiler menurut Dr Widodo, adanya gangguan pada kontrol syaraf otot mulut yang disebabkan adanya ketidakmampuan organ-organ otak. “Bila sel-sel otak terganggu, bisa menimbulkan gangguan motorik baik itu lumpuh, lemah dan kaku, termasuk organ mulut lambat berfungsi, misalnya kontrol untuk menelan dan meludah jadi terganggu,” jelas Widodo yang menyebutkan gangguan pada sel-sel otak bisa akibat serangan infeksi waktu dalam kandungan maupun bersalin. Ibu hamil yang terinfeksi TORCH misalnya, gejalanya akan terlihat seperti bayi yang dilahirkan tidak menangis. Kelainan di otak juga melahirkan kontrol untuk menelan dan meludah jadi terganggu.

Anak yang ngeces terus menerus juga bisa disebabkan gangguan infeksi pada amandel yang berulang, atau luka/infeksi kulit seperti sariawan. Bila si kecil awalnya tak punya kebiasaan ngeces, lalu tiba-tiba ngeces, Anda perlu mewaspadai adanya infeksi amandel atau sariawan di mulut anak.
Fenomena Normal 
Ngeces adalah hal normal pada batita. Begitupula jika bayi tidak punya kebiasaan ngeces, itupun hal yang lazim. Sebab, air liur ini tidak berbahaya mengingat sebagian air liur mengandung air yang berguna untuk melindungi permukaan di daerah tenggorokan pada saat menelan makanan. Selain itu, dalam air liur terdapat enzim emilase yang berfungsi membantu pencernaan di lidah, dan membantu mengeleminasi atau mengevakuasi bakteri dan virus dari mulut.

Perbedaan anak yang ngeces dan tidak hanyalah pada proses pematangan syaraf mulut yang berbeda. Pada bayi yang ngeces, seiring bertambahnya usia, proses kematangan di sharaf otot mulut pun bertambah baik, kebiasaan itu akan hilang.
Proses kematangan ini pada batita berkisar pada usia 18-24 bulan. Setelah itu, biasanya kebiasaan ngeces mulai hilang. Meski demikian, tambah Widodo, walau usia anak sudah lebih dari 2 tahun, tapi masih terlihat ngiler saja, tidak perlu menjadi panik. “Pada kebiasaan ngeces yang normal akan hilang dengan sendirinya. Jika sudah di atas 4 tahun bisa dikatakan karena adanya penyakit menetap atau patologis,” tegasnya.

Ngeces akibat penyakit, derajat berat-ringannya gejala penyakit ini berdasarkan banyak sedikit atau banyaknya air liur yang keluar. Misalnya shaloe jenis ringan hanya membasahi bibir saja atau menetes saja. Kategori sedang bila menetes dari bibir hingga dagu. Kategori berat jika sampai ‘membasahi’ alas dada/bajunya. Tingkat yang paling parah atau derajat profus, anak mengeluarkan air liur terus menerus hingga sampai membasahi benda sekitar misalkan meja.

Untuk mengetahui apakah ngeces anak mengindikasikan bahaya atau tidak, ada petunjuk sederhana yang bisa dilakukan. Bila bayi ngiler terus, dan muncul demam bisa karena gejala infeksi amandel atau sariawan di sekitar mulut, masih kategori ringan terutama bila sembuh dalam dua minggu. Setelah kurun waktu itu belum juga sembuh, maka perlu tindakan ke dokter untuk memastikan penyebabnya.

Penanganan yang benar 
Apa akibat anak ngeces terus menerus? Kata Widodo bisa dibilang tidak ada atau tidak berat. Paling-paling yang sering terlihat adalah masalah di permukaan bibir sering basah sehingga gampang kotor, sehingga daerah mulut harus sering dibersihkan. Jika terkena baju, artinya harus sering diganti agar tidak menimbulkan bau juga nampak selalu bersih dan kering. Begitupun dengan alas baju yang menutupi dada sebaiknya digunakan berbahan katun atau handuk yang mudah menyerap air.

Jika tingkatnya berat bahkan menjurus ke profus, maka tindakan yang harus diberikan adalah dengan memberikan terapi bicara sama seperti anak yang mengalami keterlambatan bicara. Sebab, anak yang ngeces terus menerus cenderung lambat kemampuan bicaranya. Anak harus dilatih cara menggerakan bibir, cara menelan, cara mengunyah agar air liur tidak keluar juga latihan pada otot dan rongga mulut. Selain itu juga bisa diberikan obat-obatan, namun alternatif ini sangat jarang dilakukan karena dampaknya yang sangat tajam. Alternatif terakhir adalah dengan terapi bedah, berupa kelenjar air ludah diangkat, atau suntikan untuk menahan keaktifan produksi kelenjar air ludah. Tapi, jangan khawatir ini jarang dilakukan kok. Karena, penderita air liur berlebihan sangat kecil.

 Cara Mengatasi Bayi Suka Ngeces
1. Cucilah tangan dengan seksama lalu cobalah memijat gusi bayi dengan lembut.
2. Ajaklah bayi anda “berbicara” ini akan membuat perhatiannya terlatih, dan mengikuti “kata-kata” yang kita ucapkan. Hal ini sangat baik untuk melatih otot-otot disekitar mulut sikecil.

IDIH, NGECES TERUS!
Jika kemampuan mengisap dan menelannya baik, bibir bayi seharusnya bersih dari luberan air liur. Benarkah demikian?      Ternyata tidak selalu begitu.
Bayi yang ngeces terus belum tentu memiliki gangguan pada kemampuan mengisap dan menelannya. Lantas, apa penyebabnya?

*Radang dan sariawan 
Terus-menerus ngeces bisa disebabkan radang tenggorokan, ataupun sariawan di kerongkongan, gusi, dan lidah. Radang disebabkan infeksi, sedangkan sariawan biasanya muncul akibat luka. Pada bayi sariawan sering disebabkan oleh infeksi jamur akibat pemakaian dot yang kurang bersih atau pemakaian antibiotik jangka panjang. Sariawan ( oral thrush) yang berasa nyeri membuat bayi enggan menelan ludah. Keengganannya inilah yang membuat liur bayi keluar dari mulut. Tentu saja, baik radang tenggorokan maupun sariawan harus diatasi agar tidak bertambah parah dan merugikan.

*Tumbuh gigi 
Demikian pula menjelang keluarnya gigi bayi, air liur akan muncul lebih banyak daripada sebelumnya. Saat tumbuh gigi, gusi bayi terasa gatal dan mungkin sakit sehingga merangsang produksi air liur. Ini merupakan mekanisme yang alamiah. Semasa tumbuh gigi, produksi air liur yang berlebih pun masih bisa terjadi, yakni saat dia menggigit-gigit segala macam barang. Gerakan menggigit melibatkan gerakan otot rahang yang membuat produksi liur meningkat.

TAK MASALAH 
Pernah menggunakan air liur untuk mengobati luka si kecil? Kebiasaan kuno ini sebetulnya bukan sekadar meringankan nyeri, tapi juga menyembuhkan. Air liur terbukti mengandung antibodi, mineral, antioksidan, dan berbagai zat lain yang efektif untuk membunuh kuman. Kesimpulannya, jika air liur (saliva) bayi sampai mengalir atau berlebihan (hipersalivasi) kita tak perlu khawatir karena air liur sangat efektif membunuh kuman. Apalagi seiring dengan bertambahnya usia, umumnya hipersalivasi lambat laun akan berhenti.

Yang justru harus lebih dikhawatirkan adalah mulut bayi minim air liur (hiposalivasi). Kondisi kekurangan air liur ini bisa berdampak buruk terhadap kerusakan gigi karena tidak adanya mineral yang melindungi. Akibatnya, gigi mudah berlubang atau karies. Dampak      merugikan lainnya, jaringan lunak rongga mulut akan mudah mengalami gangguan oksidatif karena kurangnya oksidan. Bila si kecil mengalaminya, akan mudah terjadi sariawan dan luka-luka kecil di rongga mulutnya.

KAPAN REFLEKS MENGISAP MUNCUL?
Sejak berusia 13-15 minggu, janin sudah punya refleks mengisap. Melalui USG munculnya refleks mengisap pada janin terlihat dari kemampuannya mengenyot jempol. Kemampuan mengisap ini akan berkembang seiring dengan bertambahnya usia.

Nah, setelah dilahirkan, kemampuan mengisap bayi akan lebih kuat daripada sebelumnya diikuti refleks menelan. Terbukti, tanpa diajari ia bisa mengisap payudara ibu dan menelan ASI. Padahal mekanisme mengisap ASI membutuhkan daya yang besar dengan melibatkan gerakan menyedot sekaligus memerah.

Refleks mengisap ini muncul kala bayi merasa lapar. Bayi langsung menunjukkan reaksi ingin mengisap ketika ada sesuatu di dekat mulutnya. Coba saja sentuhkan salah satu jemari kita di bibirnya. Ia pasti akan mengarahkan mulutnya untuk mengisap jemari kita. Refleks ini tergolong refleks primitif yang membuat bayi mampu bertahan hidup.

Seiring dengan pertambahan usianya, bayi perlu mendapat makanan pendamping ASI di usia 6 bulan. Selain karena kebutuhannya akan zat gizi meningkat dan tak lagi tercukupi hanya dari ASI, secara bertahap bayi juga perlu dilatih untuk mengunyah dan menelan makanan. Dari makanan cair beralih ke semipadat hingga akhirnya kelak saat berusia setahun makanannya sama dengan menu keluarga. Pelatihan ini akan membuat bayi kelak benar-benar siap mengonsumsi makanannya.

GANGGUAN ISAP DAN TELAN
Sayangnya, tidak semua bayi memiliki kemampuan mengisap yang baik. Banyak di antaranya yang mengalami kesulitan sehingga tak mampu mengisap ASI atau menelan makanan lainnya dengan sempurna. Bayi pun butuh cara khusus supaya minuman maupun makanan bisa masuk ke dalam tubuhnya.
Mengapa dapat terjadi gangguan demikian?
LAHIR PREMATUR 
Bayi yang lahir prematur atau bayi yang lahir dengan BB rendah (kurang dari 2.500 gram) kemungkinan belum bisa mengisap dan menelan dengan baik karena koordinasi otot-ototnya belum sempurna. Sayangnya, hingga saat ini belum diketahui penyebab gangguan koordinasi otot mulut dan kerongkongan. Akibatnya, sangat sulit mencegah kasus ini. Yang bisa dilakukan hanyalah sebatas menjalani pola hidup sehat lewat asupan makanan bergizi ibu hamil, dan kontrol ke dokter kandungan secara teratur. Ibu yang memiliki penyakit khusus, diabetes misalnya, berkonsultasilah ke ahlinya.

FUNGSI SARAF PUSAT TERGANGGU 
Umumnya, gangguan mengisap ini disebabkan terganggunya pembentukan saraf pusat sehingga refleks menelan dan mengisap bayi pun jadi tidak baik. Koordinasi otot mulut yang tidak baik mengakibatkan refleks menelan yang seharusnya otomatis teratur jadi terganggu. Akhirnya, air liur yang seharusnya bisa masuk ke kerongkongan dan lambung malah keluar lewat mulut.

KELAINAN BAWAAN 
Kesulitan mengisap dan menelan juga dapat disebabkan oleh kelainan bawaan yang sudah diderita bayi begitu ia dilahirkan (bibir sumbing dan langit-langit belah, kerongkongan tidak terbentuk sempurna atau bahkan tersumbat). Gangguan genetik ini menyebabkan air liur bayi yang diproduksi secara teratur dan seharusnya ditelan masuk lewat kerongkongan malah keluar lewat mulut. Akibatnya, bayi terus-menerus ngeces . Bila terjadi demikian maka harus segera diperbaiki karena selain makanan dan minuman sulit masuk ke pencernaan, bisa saja bayi tersedak. Jika organ mulut bayi yang sudah lahir harus dikoreksi, tindakan operasi merupakan jalan yang paling dianjurkan. Dokter akan mengoreksi kelainan-kelainan tersebut sehingga bayi dapat memenuhi kebutuhan makan dan minumnya dengan baik.

KELAINAN JANTUNG 
Jika tidak ditemukan sumbatan maupun gangguan koordinasi otot kerongkongan, tetapi bayi kesulitan mengisap ASI, mungkin saja penyebabnya kelainan jantung. Apa saja ciri kelainan ini?

*Letih mengisap 
Mengisap membuat bayi cepat letih. Baru sebentar mengisap, sekitar 2-3 menit, ia sudah berhenti menyusu dan terlihat kelelahan. Padahal bayi normal mampu menyusu ASI selama 5-10 menit tanpa beristirahat.

*Muncul kebiruan 
Warna kebiruan akan muncul di beberapa tempat, seperti bibir dan ujung-ujung jari. Warna kebiruan ini akan tampak makin jelas bila ia sedang menangis.

*Detak jantung lebih keras 
Cobalah rasakan detak jantung bayi. Gangguan jantung juga bisa dideteksi lewat detak jantung yang terasa berdebar-debar dan lebih cepat. Jika anak diketahui punya kelainan jantung, selain perlu mengikuti petunjuk pengobatan dari dokter, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Antara lain, tingkat aktivitas sehari-hari. Anak dengan kelainan jantung yang agak berat tak boleh beraktivitas sampai lelah. Ini penting agar jantungnya tidak dipaksa bekerja berat.

smbr:tiposhop

0 comments:

Post a Comment