Tuesday, September 23, 2014

Filled Under: , , , , , ,

Jangan Sembarangan Beri Vitamin Pada Anak

dranak.com

Dokter Anak





Anak-anak dalam kondisi sehat di Amerika Serikat banyak yang mengonsumsi suplemen vitamin dan mineral setiap harinya di mana umumnya tidak ada indikasi medis untuk mengonsumsi suplemen tersebut.

Penelitian yang dilakukan oleh UC Davis yang dipublikasikan pada bulan Februari 2009 dalam the Archives of Pediatric & Adolescent Medicine telah mendapatkan data dimana banyak anak dan remaja dalam kondisi sehat di Amerika Serikat mengonsumsi suplemen vitamin dan mineral yang tidak mereka butuhkan.

Penelitian ini juga menemukan bahwa anak-anak yang membutuhkan vitamin justru tidak mendapatkannya. “Banyak anak-anak dan remaja yang mengonsumsi suplemen vitamin justru tidak membutuhkannya karena mereka mendapatkan asupan vitamin yang kuat dari diet sehari-hari,” kata Ulfat Shaikh, ketua penelitian, asisten professor bagian anak di UC Davis School of Medicine dan seorang dokter di UC Davis Children's Hospital.

“Penelitian kami juga mendapatkan data bahwa anak dan remaja yang menghadapi resiko defisiensi (kekurangan) vitamin dan mineral justru hanya sedikit yang mengonsumsi suplemen,” kata Shaikh.
Shaikh dan teman-temannya menganalisis data dari 10.828 anak-anak berusia antara 2-17 tahun yang terlibat dalam National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) sejak tahun 1999-2004. Para peneliti melihat dari aktivitas mereka sehari-hari, tipe makanan yang mereka konsumsi, apakah mereka memiliki asuransi kesehatan, serta beberapa faktor lain sebelum menentukan golongan anak-anak yang membutuhkan asupan suplemen.

“The American Academy of Pediatrics (AAP) tidak merekomendasikan penggunaan vitamin pada anak sehat berusia 1 tahun ke atas.”
“Kami ingin mengetahui golongan anak manakah yang membutuhkan tambahan asupan suplemen vitamin dan mineral serta apakah suplemen ini digunakan oleh orangtua mereka untuk mencegah gangguan kesehatan akibat kurangnya asupan makanan atau kebersihan makanan,” kata Shaikh.

The American Academy of Pediatrics (AAP) tidak merekomendasikan penggunaan vitamin pada anak sehat berusia 1 tahun ke atas. Penelitian sebelumnya mendapatkan data bahwa sepertiga anak-anak di Amerika Serikat mengonsumsi multi-vitamin setiap harinya. Penelitian terbaru menemukan bahwa anak yang berada dalam kondisi sehat, aktif, makan makanan dengan gizi seimbang, dan memiliki akses lebih baik ke pusat kesehatan justru paling banyak mengonsumsi vitamin.

Penelitian tersebut juga menemukan bahwa di antara anak-anak yang memiliki kondisi sangat sehat, 37% mengonsumsi vitamin. Namun hanya sekitar 28% anak-anak yang berada dalam kondisi sakit atau kurang gizi yang mengonsumsi vitamin.

“Mengonsumsi suplemen vitamin dan mineral dalam jumlah banyak dapat menyebabkan efek samping yang bervariasi, mulai dari muntah sampai efek samping serius seperti kerusakan ginjal.”

Di dalam penelitian yang sama juga ditemukan bahwa banyak anak dengan overweight atau berat badan berlebih mengonsumsi multivitamin. Sekitar 30-40% anak-anak yang makan sayuran dan minum susu mengonsumsi multivitamin. Suplemen untuk anak-anak dan remaja yang sehat dan makan makanan dengan nutrisi seimbang sebenarnya tidak dibutuhkan secara medis namun memang tidak diatur oleh Food and Drug Administration (FDA).
Sebaliknya, justru banyak ditemukan kasus overdosis pada anak-anak usia 2-4 tahun yang berkaitan dengan konsumsi vitamin dan permen. Mengonsumsi suplemen vitamin dan mineral dalam jumlah banyak dapat menyebabkan efek samping yang bervariasi, mulai dari muntah sampai efek samping serius seperti kerusakan ginjal. Shaikh berkata bahwa penelitian di masa depan mengenai isu ini akan disertakan dengan wawancara kepada orangtua mengenai alasan mereka memberikan suplemen vitamin dan mineral pada anak padahal tidak ada indikasi medis untuk memberikannya.

Makin banyak mengonsumi aneka vitamin, makin sehat dan kuatlah anak kita. Benar demikian? Ternyata tidak. Meski amat vital bagi tubuh, jumlah vitamin yang diperlukan si kecil justru terbatas.
Agar tetap beraktivitas dengan normal, tubuh manusia senantiasa melakukan reaksi metabolisme. Dalam reaksi metabolisme, makanan dan minuman yang dikonsumsi membentuk zat-zat yang dibutuhkan tubuh. Baik untuk berkegiatan, mengganti sel rusak, atau untuk tumbuh.

Reaksi metabolisme terjadi dalam waktu tertentu. Semakin cepat reaksi terjadi, semakin cepat pula zat yang dibutuhkan tubuh terbentuk. Agar reaksi lebih cepat, maka tubuh memerlukan katalisator. Di sinilah vitamin diperlulan.

Pasalnya, "Vitamin adalah katalisator bagi terbentuknya zat yang dibutuhkan tubuh," ujar Dr. H. MV. Ghazali, MBA, MM, spesialis anak dari Kid's World.
Karena fungsinya sebagai katalisator tersebut, "Kebutuhan tubuh akan vitamin pun sebetulnya sedikit saja," lanjut Ghazali. Lewat makanan yang benar dan bergizi, kebutuhan itu pasti sudah terpenuhi.

Hampir semua vitamin didapat dari luar (misalnya dalam bentuk makanan). Vitamin dalam bahan makanan pun ada yang masih berbentuk calon vitamin (provitamin) dan yang sudah jadi vitamin. Jika bentuknya masih provitamin, maka perangkat tubuh seperti enzim, hormon, bakteri atau zat lain di luar tubuh (semisal sinar matahari) akan mengubahnya menjadi vitamin. Contohnya adalah provitamin D.

Benarkah kebutuhan vitamin bagi orang dewasa lebih banyak daripada anak-anak? Jawabnya, belum tentu! Pasalnya, proses yang terjadi dalam tubuh anak lebih "hebat" daripada orang dewasa. Anak sedang mengalami masa tumbuh-kembang, sementara orang dewasa terbilang mapan dan tinggal mempertahankan kondisi baik saja.

Pertumbuhan membuat sel anak bertambah banyak. Tubuhnya pun membesar. Ia juga berkembang, baik motorik, mental, kecerdasan pusat memori serta pusat pikir, analisis, dan lainnya. Melihat proses yang terjadi dalam tubuh si anak, maka tidak bisa disimpulkan kebutuhan vitamin pada anak lebih sedikit dari orang dewasa.

Berapa jumlah pasti vitamin yang dibutuhkan manusia tidak bisa dihitung dengan mudah. Praktisnya bisa terdeteksi dari gejala kelebihan dan kekurangan vitamin. Misalnya kekurangan vitamin A ditandai dengan rabun senja. "Anak biasanya sulit menangkap cahaya."

Contoh lain, Vitamin B yang diperlukan untuk mendukung sistem saraf. Kekurangan vitamin B mengakibatkan sering kesemutan. Vitamin B, Menurut Ghazali, juga bisa membantu mengurangi efek samping obat. Misalnya obat TBC (INH Isoneazib) yang mempengaruhi sistem saraf tepi. Kalau dosisnya terlalu banyak bisa mengakibatkan penderita tidak bisa berjalan. "Nah, untuk mengurangi efek samping pada sistem saraf tepi biasanya dokter akan memberi vitamin B6."

smbr:bubutanri dan Suara Media

 salam dr anak

0 comments:

Post a Comment