Tuesday, September 23, 2014

Filled Under: , , , , , ,

MITOS-MITOS TENTANG VITAMIN UNTUK Anak

dranak.com
Dokter Anak



1. Anak kurus karena kurang vitamin
Orang sering berpikir, anak yang gemuk dan lincah pastilah sehat. Padahal belum tentu, lho. Anak gemuk belum tentu cukup vitamin. Pasalnya, tubuh yang besar relatif butuh makanan lebih banyak. "Bisa jadi, anak yang gemuk tersebut kurang darah alias mengidap anemia."


Biasanya pada saat lahir, anak tersebut mendapat cadangan makanan (baik zat besi maupun vitamin) yang cukup dari ibunya. Namun seiring pesatnya pertumbuhan, ia ternyata relatif kekurangan vitamin pembentukan darah. Untuk itu harus mendapat tambahan asam folat, zat besi, dan vitamin C.

Sebaliknya, anak yang kurus juga belum tentu kekurangan vitamin. Pemikiran bahwa anak gemuk itu sehat dan anak kurus tidak sehat, tidak berlaku lagi sekarang. "Patokannya sekarang adalah tumbuh dan kembang. Untuk mengetahui apakah anak kita cukup ideal, bisa menggunakan alat ukur grafik berat, tinggi dan umur yang saling dibandingkan," lanjut Ghazali. Selain itu, faktor genetik pun bisa mempengaruhi anak menjadi kurus, gemuk, pendek, tinggi, dan lainnya.


2. Nafsu makan hilang, cekok saja dengan vitamin
Sering, kan, kita lihat orang tua yang sembarangan mencekokkan vitamin pada anaknya yang sulit makan. "Mencekokkan vitamin dianggap bisa mengembalikan nafsu makan anak. Padahal, hilangnya nafsu makan anak disebabkan banyak hal, seperti karena sakit tenggorokan, sariawan, gigi tumbuh, gigi copot, anak flu, atau terkena TBC," ujar Ghazali.

Pemberian vitamin yang berlebihan justru bisa membuat anak kehilangan nafsu makan. Terutama jika anak kehilangan vitamin C alias asam askorbat. Asam jika dimakan berlebih akan menyebabkan perut perih. Apalagi jika anak makan tidak teratur, bisa saja terjadi luka di lambung. Tetapi pada anak kecil hal ini jarang terjadi.

Penyakit mag biasanya diderita orang dewasa. Untuk itu sebaiknya mengkonsumsi vitamin sesuai dosis wajarnya 50 mg. Jangan termakan iklan yang menyebutkan bahwa menelan vitamin dosis tinggi (sampai 1.000 mg) bisa membantu stamina tetap kuat dan tidak sakit-sakitan.


3. Vitamin membuat anak lebih cerdas
Vitamin memang bisa membuat anak cerdas, namun tetapi prosesnya tentu saja tidak langsung. Cerdas itu terjadi karena anak mengalami perkembangan. Misalnya cepat bicara, berjalan, bermain, dan lainnya.

Lagi pula, kecerdasan ditentukan oleh beberapa faktor, di antaranya stimulasi lingkungan dan makanan bergizi. Dalam makanan bergizi, salah satu unsurnya adalah vitamin. "Oleh karenanya, secara tidak langsung, vitamin dapat mempengaruhi kecerdasan. Tapi perlu diingat, vitamin hanya dibutuhkan sedikit saja oleh anak."

KREATIF OLAH SAYURAN
Sumber vitamin terbaik adalah sayur dan buah-buahan. Sayangnya banyak anak "berhobi" menyisihkan makanan hijau dari piringnya. Orang tua pun kerap dibikin bingung. Segala bujuk rayu sulit menumbangkan tekad anak untuk menolak sayur-sayuran. Jadi, bagaimana dong? Caranya sederhana, kok. "Modal paling murah menghadapi anak dengan sikap penolakan seperti itu cuma satu: yaitu kreativitas," kata Ghazali.


Sebaiknya, cari dulu penyebab anak menolak sayuran. Ini bisa ditanyakan langsung pada anak. Mungkin ia tak menyukai warna, bentuk, atau rasanya. Setelah penyebab pastinya diketahui, bisa diakali, kan? Kalau dia tidak suka bentuknya, kreasikan dengan bentuk lain. Misalnya diblender dan dibuat panganan dan cetak dengan bentuk yang lucu.

Kalau ternyata anak tak suka rasanya, bisa menambahkan rasa dari makanan lain. Begitupun kalau ia tidak suka warnanya.
Misalnya anak tidak suka warna hijau, bisa diblender menjadi sup yang lezat dengan menambah jenis sayur berwarna dominan lain, misalnya tomat dengan warna merah, wortel warna ungu, atau jagung berwarna kuning. "Pokoknya, kalau orangtua kreatif, kesulitan pasti bisa diatasi," ujar Ghazali.

Perlu diperhatikan pula cara pengolahannya. "Jangan memasak sayuran terlalu lama, karena vitamin yang dikandungnya bisa rusak atau berkurang akibat pengolahan yang tidak benar itu. Juga untuk buah-buahan, sebaiknya cuci sebelum dikupas."

Jika sementara waktu anak masih belum mau mengonsum sayuran, orang tua bisa memberinya multivitamin. Biasanya, tiap merek multivitamin memiliki komposisi berbeda. Ada merek yang komposisi vitamin larut lemaknya (A, D, E, K) lebih besar dari vitamin larut air (B,C), ada pula yang sebaliknya. Untuk itu, orang tua sebaiknya tidak memberi anak vitamin dari satu jenis merek. "Kalau vitamin merek yang satu sudah dihabiskan, ganti penggunaan vitamin merek lain agar seimbang," anjur Ghazali.

Namun kalau bisa, jangan jadikan suplemen vitamin sebagai kebutuhan mendesak bagi anak. Pasalnya, vitamin itu penting, namun kebutuhannya tidaklah banyak. "Jadi, dengan pemberian makanan alami yang bergizi, kebutuhan itu sudah terpenuhi." (fn/kd/tn/suaramedia.com)


  salam dr anak

0 comments:

Post a Comment