Friday, October 3, 2014

Filled Under: , , , , ,

Cara Mengajak Anak Belajar

Dokter Anak


Banyak ayah ibu yang mengeluh anaknya tidak suka belajar dan lebih suka melakukan aktivitas lain. Bagaimana cara mengajak anak belajar? 
Banyak ayah ibu yang mengeluhkan anaknya tidak suka belajar. “Anak saya kalau disuruh belajar sulitnya minta ampun, tapi kalau main games, gak disuruh bisa main seharian. Bagaimana cara mengajak anak belajar,” tanya seorang ibu. Apakah ayah ibu mempunyai pertanyaan serupa? Silahkan luangkan waktu 10 menit untuk membaca penjelasan lebih lanjut mengenai bagaimana prosesnya anak belajar dan cara untuk mengajak anak belajar.
Pada dasarnya sebagaimana kita, setiap anak dilahirkan sebagai pembelajar. Kemauan belajar yang luar biasa membuat seorang anak bisa menguasai kemampuan untuk mengerjakan berbagai aktivitas.
Hanya saja, orang tua seringkali memberikan respon yang meredupkan kemauan belajar anak. Semisal, ketika masih kecil anak cenderung memegang semua benda dan memasukkannya ke mulut. Orang tua cenderung akan mengatakan “Nak jangan dimasukkan ke mulut”. Ketika anak sudah bisa bicara dan  mengajukan pertanyaan, “ayah, apakah matahari itu juga tidur seperti aku?”. Orang tua cenderung menjawab seperlunya, “ya enggak lah” dan ketika anak bertanya lebih lanjut, orang tua banyak yang menjawab “nanti kalau sudah besar kan kamu tahu sendiri”. Ketika sudah mulai besar, orang tua seringkali menyuruh anak belajar meskipun anak sedang tidak berminat belajar. Anak pun kemudian menganggap belajar sebagai aktivitas yang tidak menyenangkan. Semakin disuruh justru semakin anak enggan belajar.
Anak belajar
Mengapa respon orang tua seperti contoh itu meredupkan kemauan belajar anak? Mari kita perhatikan proses pembelajaran yang dialami seorang anak
  1. Rasa ingin tahu. Belajar berasal dari rasa ingin tahu yang terlihat dari pertanyaan dan keinginan mencoba berbagai hal. Rasa ingin tahu yang menggerakkan anak untuk belajar dengan sendirinya. Ketika rasa ingin tahu direspon negatif maka anak belajar untuk mengurangi atau melupakan rasa ingin tahunya
  2. Mengalami. Belajar yang bermakna adalah dengan mengalami sebuah obyek atau aktivitas. Mengalami bisa dengan melakukan tindakan nyata atau dengan membayangkan. Belajar bukan sekedar mengetahui “Singa itu suka mengaum”, tapi mengalaminya dalam bentuk menyaksikan singa mengaum, mendengar cerita sambil membayangkan singa mengaum atau bermain seolah menjadi singa yang mengaum.
  3. Merasa Diakui. Anak belajar dengan mempertimbangkan respon orang lain terhadap kata atau tindakannya. Bila tidak mendapat respon, anak akan menganggap tidak penting suatu hal atau aktivitas. Bila mendapat respon, anak merasa diakui dan akan melakukannya kembali. Semisal ketika belajar, anak tidak mendapat respon dari orang tua dan ketika tidak belajar, anak mendapat respon orang tua, maka anak akan berhenti belajar. Anak akan berpikir ketika tidak belajar maka ia diakui dan mendapat perhatian orang tua, sementara ketika belajar justru diabaikan orang tua.
Tantangan anak belajar
Tampilan fitur Tantangan pada aplikasi Takita 1.1. Nantikan peluncurannya
Dengan memahami proses anak belajar RMM ini, maka orang tua bisa membangun kemauan belajar anak, bisa membuat anak menjadi penuh semangat dalam belajar. Berdasarkan tahap RMM tersebut, maka ayah ibu bisa melakukan tiga langkah berikut ini untuk membangun kemauan belajar anak:
  1. Tumbuhkan rasa ingin tahu. Daripada mengatakan belajar itu penting, akan lebih baik bila ayah ibu mengawali proses belajar dengan menciptakan rasa ingin tahu. Semisal akan belajar berhitung, ayah ibu bisa bercerita mengenai seseorang yang kesulitan karena tidak bisa berhitung dan tanyakan pada anak apakah mengetahui cara agar tidak mengalami kesulitan tersebut. Bila anak bertanya bagaimana caranya, orang tua bisa menjawab “ada 4 mantra ajaib yang bisa mengatasi kesulitan itu, penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian”. Anak pun akan merasa ingin tahu 4 “mantra ajaib” tersebut.
  2. Beri kesempatan untuk mengalami. Bila anak sudah punya rasa ingin tahu, beri kesempatan pada anak untuk mengalami aktivitas yang bisa menjawab rasa ingin tahunya. Caranya bisa dengan memberi contoh, mengajak, mengijinkan atau mendampingi anak melakukan suatu aktivitas. Proses mengalami bisa dilakukan anak seorang diri atau bila perlu dengan didampingi orang tua. Mengalami bisa terjadi dalam bentuk aktivitas langsung, menyimak dongeng atau cerita dan dengan bermain peran. Sesuaikan bentuk mengalami dengan kemampuan anak dan materi belajarnya.
  3. Beri pengakuan pada perilaku anak. Pengakuan dari orang tua akan menguatkan perilaku anak. Beri pengakuan yang konsisten dan sering pada perilaku anak yang ingin dikuatkan dan diulang kembali. Bila anak belajar, orang tua bisa memberi respon dengan pujian, bertanya mengenai hal yang menyenangkan dari belajar, atau ajak anak melakukan aktivitas yang menyenangkan setelah belajar. Ketika anak berperilaku yang tidak diinginkan, hindari respon emosional yang berlebihan dan tidak terkontrol. Tetap tenang dan berikan penjelasan mengenai dampak dari perilaku tersebut pada anak.
Demikian langkah untuk melakukan tahap RMM, Rasa Ingin Tahu – Mengalami – Merasa Diakui, untuk membangun kemauan anak belajar. Berdasarkan tahap RMM ini, kami mendesain fitur Tantangan yang akan hadir pada aplikasi Takita 1.1. Apa itu fitur Tantangan 1.1? Sebuah fitur yang mengajak anak belajar mengembangkan bakatnya melalui tahap RMM. Penjelasan lebih lengkap, silahkan menyimak posting selanjutnya mengenai fitur tersebut. Bila belum mengunduh, silahkan unduh aplikasi Takita, media sosial untuk menemukan dan mengembangkan bakat anak diApp Store.
smbr:blog.temantakita
dranak.com

0 comments:

Post a Comment