Saturday, October 25, 2014

Filled Under: , , , , ,

Jangan Ceroboh Saat Berikan Obat ke Anak

Dokter Anak




KOMPAS.com - Kesalahan pemberian obat ke anak bisa berdampak serius. Sayangnya, setiap 8 menit satu anak mengalami kesalahan pemberian obat dari orangtua atau pengasuh mereka. 

Demikian menurut studi yang dilakukan di AS. Diketahui, 63.000 anak berusia kurang dari 6 tahun mengalami kesalahan pemberian obat antara tahun 2002 dan 2012. Kesalahan pemberian obat itu mayoritas terjadi di rumah.

"Beberapa kesalahan ini memiliki konsekuensi yang sangat serius," kata penulis studi Dr Huiyun Xiang, direktur Pusat Penelitian Trauma Pediatrik di Rumah Sakit Anak di Columbus, Ohio. 

Selama kurun waktu penelitian, 25 anak meninggal akibat kesalahan pengobatan, dan 4.658 anak harus masuk rumah sakit. Para peneliti juga menemukan jumlah kesalahan yang melibatkan penggunaan obat batuk dan demam mengalami penurunan 59 persen antara tahun 2002 dan 2012, tetapi jumlah kesalahan yang berhubungan dengan penggunaan obat lain meningkat hampir 43 persen. 

Pada tahun 2007, Badan Obat dan Makanan Amerika Serikat menganjurkan untuk membatasi penggunaan obat batuk dan demam pada anak-anak di bawah usia 6 tahun. Hal ini karena tidak ada bukti bahwa obat tersebut efektif untuk anak-anak. Efek samping dari obat-obat tersebut juga sering ditemukan.

Ikatan dokter anak di AS juga setuju dengan rekomendasi tersebut. Kemudian di tahun 2008, produsen obat menghapus obat batuk dan demam untuk anak berusia kurang dari dua tahun, serta memberi label peringatan penggunaan obat pada anak kurang dari 4 tahun.

"Penelitian kami dan studi sebelumnya telah menemukan penurunan yang signifikan terhadap kesalahan penggunaan obat batuk dan obat demam sejak rekomendasi itu keluar," kata Xiang.
 
Tidak jelas mengapa ada kenaikan pada kesalahan pemberian obat. Para ahli menduga hal itu ada hubungannya dengan meningkatnya penggunaan obat penghilang rasa sakit dan antihistamin yang biasanya digunakan untuk alergi pada anak-anak.

Menurut penelitian ini, lebih dari 25 persen kesalahan pengobatan disebabkan karena secara tidak sengaja meminum atau mengonsumsi  obat sebanyak dua kali, padahal hanya satu dosis yang dibutuhkan.

Para peneliti juga menemukan bahwa semakin keci usia anak, semakin besar pula  kemungkinan mereka untuk mengalami kesalahan pengobatan. Sebanyak 25 persen kasus kesalahan terjadi pada anak berusia kurang dari 1 tahun.

"Anak-anak yang berusia sangat muda mungkin belum bisa berkomunikasi dengan orang tua dan pengasuhnya, sehingga tidak dapat memberitahu orang-orang dewasa bahwa mereka telah mengonsumsi obat,” katanya.

Ia menyarankan orangtua untuk melakukan pencatatan dosis dan pemberian obat. Saat ini di ponsel pintar juga tersedia aplikasi khusus untuk pemberian obat, termasuk mengukur dosis yang paling tepat. (Eva Erviana)



dranak.com

0 comments:

Post a Comment