Thursday, March 5, 2015

Filled Under: , , , , ,

Ibu yang Ingin Memberi ASI Meski Tidak Lalui Kehamilan

Dokter Anak


Umumnya perempuan yang bisa memberikan air susu ibu (ASI) adalah yang menjalani proses kehamilan terlebih dahulu. Namun dengan induced lactation atau mencetuskan penyusuan ibu, tanpa kehamilan pun seorang perempuan bisa mengeluarkan ASI. Bagaimana prosedurnya?

dr Asti Praborini, SpA dari RS Kemang Medical Care (KMC) menjelaskan sebelum seorang dokter membantu ibu menjalani induced lactation, maka akan menanyakan apa niat melakukan kegiatan itu dan dari mana bayi yang diadopsinya itu. Ini antara lain dilakukan untuk menghindari kemungkinan adanya human trafficking.

"Jadi prosedurnya harus datang secara bersama suami dan istri yang memiliki kejelasan status pernikahannya. Karena kalau sesi pertama yang datang hanya ibunya saja dan selanjutnya suaminya saja itu sudah tidak beres," kata dr Asti yang ditemui detikHealth beberapa waktu lalu dan ditulis pada Kamis (5/3/2015).



Pasangan yang disetujui untuk menjalani induced lactation adalah pasangan yang jelas menikah secara agama maupun negara, sehingga memenuhi syarat untuk mengadopsi bayi. Selain itu perempuan yang akan menjalani proses tersebut juga harus sehat agar dapat menyusui dengan baik.

"Mengapa harus ibu yang sehat? Karena kami memberikan hormon dan obat-obatan, jangan sampai ibunya jadi bermasalah dengan hormon dan obat-obatan itu. Misalnya untuk pasien yang memiliki kolesterol tinggi juga bisa melakukan induksi laktasi karena di sini kami tergabung dalam tim yang terdiri dari tim dokter laktasi, dokter anak, dokter kandungan, psikolog, dan penyakit dalam," papar dr Asti.

Lalu dokter akan mencari kesamaan visi dengan pasien. Suami istri yang bersangkutan akan ditanya motivasinya untuk menyusui anak. Bila niat atau motivasi itu dinilai belum cukup, maka dokter akan menggali terus niat orang itu sampai muncul pemahaman tentang 'muhrim' bagi yang beragama Islam. dr Asti akan menolak ibu yang ingin menjalani program induced lactation jika anak yang diadopsi berusia di atas 2 tahun.

Sementara untuk pasangan non-muslim akan ditanya hingga muncul pemahaman bahwa pemberian ASI ini adalah agar hubungan batin antara ibu dan anak menjadi lebih baik. "Prosedur itu dilakukan supaya orang tidak menyangka dokter main keluar-keluarkan ASI sembarangan, serta supaya ada niat dan tujuan orang itu mengapa ingin dikeluarkan ASI. Setelah itu obat-obatan akan diberikan biar ASI-nya keluar," jelas dr Asti.

Selanjutnya si ibu akan diberi hormon dan laktogok secara bersamaan. Laktogok adalah obat penambah ASI. Setelah itu pemberian hormon dihentikan, dan hanya laktogoknya saja yang berlanjut hingga ASI keluar.

Setelah ASI keluar, bayi diberi alat suplementer atau supplementary nursing system. Sehingga bayi menyusu pada payudara ibu plus menggunakan alat tersebut.

"Cara yang lebih sederhana, selain pakai suplementer juga bisa menggunakan botol kaca yang terhubung selang, tapi ibu bayi akan kerepotan karena harus memegang botol kaca pada posisi lebih tinggi seperti ketika sedang diinfus dan lagi jatuhnya lebih mahal karena harus mengganti selangnya," sambung dr Asti.

Sedangkan bila menggunakan suplementer, ibu dapat dengan mudah menggantung alat itu di leher dan tak perlu mengganti-ganti selang seperti ketika memakai botol kaca berisi susu, karena suplementer cukup dicuci saja.

"Cara kerjanya pun sama karena bayi menyusu di payudara ibu tetapi juga pakai alat ini. Alat suplementer juga sudah ada di KMC, para ibu dirawat dulu untuk belajar menyusui sampai ia bisa memakai suplementer," imbuhnya.



Tidak hanya diajari cara menyusui, namun perawatan pada bayi baru lahir pun turut diberikan, misalnya cara memandikan, dan sebagainya. Menurut dr Asti, beberapa pasien induksi laktasi yang tidak dirawat biasanya jadi gagal karena tidak tahu banyak informasi.

"Kami sudah buat papernya di Kongres Nasional Dokter Anak pada tahun 2014, kami membuat multi center riset tentang laktasi pada adopsi dari Semarang, Tanjung Selor, Tobelo, Jakarta yang juga menjadi juara. Yang terpenting kami tidak melakukan hal yang sia-sia," ucap dr Asti.

 smbr:detikhealth

  dranak.com

0 comments:

Post a Comment